Air mata Rasulullah

Air mata Rasulullah

 

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

 

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

 

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya.

 

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

 

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

 

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

 

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wa maa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.“Ummatii, ummatii, ummatiii!” – “Umatku, umatku, umatku”Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wabaarik wa sallim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

GELOMBANG FM DAN AM

GELOMBANG FM DAN AM

 

1. Multichannel Frequency Modulation ( FM )

 

Penggunaan signal AM-VSB untuk mengirim beberapa channel analog adalah prinsip lurus kedepan dan sederhana. Bagaimana pun juga hal itu memiliki syarat C/N paling tidak 40 dB untuk setiap channel AM dimana antara laser dan penerimanya harus garis lurus. Cara lain adalah denga menggunakan modulaasi frekuensi ( FM ) dimana setiap subcarrier dimodulasi oleh frekuensi dengan signal informasi, namun hal ini membutuhkan bandwide lebih besar sekitar 7 – 8 kali dari AM. Rasio S/N dari output detector FM jauh lebih besar dari rasio C/N pada input dari detector.

 

Rasio dari s/n tergantung pada desain sistem tetapi umumnya berada pada 36-44 db

Di antara keuntungan FM adalah bebas dari pengaruh gangguan udara, bandwidth (lebar pita) yang lebih besar, dan fidelitas yang tinggi. Jika dibandingkan dengan sistem AM, maka FM memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :

Lebih tahan noise

Frekuensi yang dialokasikan untuk siaran FM berada diantara 88 – 108 MHz, dimana pada wilayah frekuensi ini secara relatif bebas dari gangguan baik atmosfir maupun interferensi yang tidak diharapkan. Jangkauan dari sistem modulasi ini tidak sejauh, jika dibandingkan pada sistem modulasi AM dimana panjang gelombangnya lebih panjang. Sehingga noise yang diakibatkan oleh penurunan daya hampir tidak berpengaruh karena dipancarkan secara LOS (Line Of Sight).

 

Bandwith yang Lebih Lebar

Saluran siar FM standar menduduki lebih dari sepuluh kali lebar bandwidth (lebar pita) saluran siar AM. Hal ini disebabkan oleh struktur sideband nonlinear yang lebih kompleks dengan adanya efek-efek (deviasi) sehingga memerlukan bandwidth yang lebih lebar dibanding distribusi linear yang sederhana dari sideband-sideband dalam sistem AM. Band siar FM terletak pada bagian VHF (Very High Frequency) dari spektrum frekuensi di mana tersedia bandwidth yang lebih lebar daripada gelombang dengan panjang medium (MW) pada band siar AM.

 

Fidelitas Tinggi

Respon yang seragam terhadap frekuensi audio (paling tidak pada interval 50 Hz sampai 15 KHz), distorsi (harmonik dan intermodulasi) dengan amplitudo sangat rendah, tingkat noise yang sangat rendah, dan respon transien yang bagus sangat diperlukan untuk kinerja Hi-Fi yang baik. Pemakaian saluran FM memberikan respon yang cukup untuk frekuensi audio dan menyediakan hubungan radio dengan noise rendah. Karakteristik yang lain hanyalah ditentukan oleh masalah rancangan perangkatnya saja.

 

Transmisi Stereo

Alokasi saluran yang lebar dan kemampuan FM untuk menyatukan dengan harmonis beberapa saluran audio pada satu gelombang pembawa, memungkinkan pengembangan sistem penyiaran stereo yang praktis. Ini merupakan sebuah cara bagi industri penyiaran untuk memberikan kualitas reproduksi sebaik atau bahkan lebih baik daripada yang tersedia pada rekaman atau pita stereo. Munculnya compact disc dan perangkat audio digital lainnya akan terus mendorong kalangan industri peralatan dan teknisi siaran lebih jauh untuk memperbaiki kinerja rantai siaran FM secara keseluruhan.

 

Hak komunikasi Tambahan

Bandwidth yang lebar pada saluran siar FM juga memungkinkan untuk memuat dua saluran data atau audio tambahan, sering disebut Subsidiary Communication Authorization (SCA), bersama dengan transmisi stereo. Saluran SCA menyediakan sumber penerimaan yang penting bagi kebanyakan stasiun radio dan sekaligus sebagai media penyediaan jasa digital dan audio yang berguna untuk khalayak.

 

Teori Modulasi Frekuensi (FM)

 

Baik FM (Frekuensi Modulation) maupun PM (Phase Modulation) merupakan kasus khusus dari modulasi sudut (angular modulation). Dalam sistem modulasi sudut frekuensi dan fasa dari gelombang pembawa berubah terhadap waktu menurut fungsi dari sinyal yang dimodulasikan (ditumpangkan). Misal persamaan gelombang pembawa dirumuskan sebagai berikut :

Uc = Ac sin (wc + c)

Dalam modulasi amplitudo (AM) maka nilai ‘Ac‘ akan berubah-ubah menurut fungsi dari sinyal yang ditumpangkan. Sedangkan dalam modulasi sudut yang diubah-ubah adalah salah satu dari komponen ‘wc + c‘. Jika yang diubah-ubah adalah komponen ‘wc‘ maka disebut Frekuensi Modulation (FM), dan jika komponen ‘c‘ yang diubah-ubah maka disebut Phase Modulation (PM).

Jadi dalam sistem FM, sinyal modulasi (yang ditumpangkan) akan menyebabkan frekuensi dari gelombang pembawa berubah-ubah sesuai perubahan frekuensi dari sinyal modulasi. Sedangkan pada PM perubahan dari sinyal modulasi akan merubah fasa dari gelombang pembawa. Hubungan antara perubahan frekuensi dari gelombang pembawa, perubahan fasa dari gelombang pembawa, dan frekuensi sinyal modulasi dinyatakan sebagai indeks modulasi (m) dimana :

m = Perubahan frekuensi (peak to peak Hz) / frekuensi modulasi (Hz)

 

Dalam siaran FM, gelombang pembawa harus memiliki perubahan frekuensi yang sesuai dengan amplituda dari sinyal modulasi, tetapi bebas frekuensi sinyal modulasi yang diatur oleh frekuensi modulator.

 

Pemancar FM

 

Tujuan dari pemancar FM adalah untuk merubah satu atau lebih sinyal input yang berupa frekuensi audio (AF) menjadi gelombang termodulasi dalam sinyal RF (Radio Frekuensi) yang dimaksudkan sebagai output daya yang kemudian diumpankan ke sistem antena untuk dipancarkan. Dalam bentuk sederhana dapat dipisahkan atas modulator FM dan sebuah power amplifier RF dalam satu unit. Sebenarnya pemancar FM terdiri atas rangkaian blok subsistem yang memiliki fungsi tersendiri, yaitu:

1.      FM exciter merubah sinyal audio menjadi frekuensi RF yang sudah termodulasi

2.      Intermediate Power Amplifier (IPA) dibutuhkan pada beberapa pemancar untuk meningkatkan tingkat daya RF agar mampu menghandle final stage

3.      Power Amplifier di tingkat akhir menaikkan power dari sinyal sesuai yang dibutuhkan oleh sistem antena

4.      Catu daya (power supply) merubah input power dari sumber AC menjadi tegangan dan arus DC atau AC yang dibutuhkan oleh tiap subsistem

5.      Transmitter Control System memonitor, melindungi dan memberikan perintah bagi tiap subsistem sehingga mereka dapat bekerja sama dan memberikan hasil yang diinginkan

6.      RF lowpass filter membatasi frekuensi yang tidak diingikan dari output pemancar

7.      Directional coupler yang mengindikasikan bahwa daya sedang dikirimkan atau diterima dari sistem antenna

 

FM Exciter

Jantung dari pemancar siaran FM terletak pada exciter-nya. Fungsi dari exciter adalah untuk membangkitkan dan memodulasikan gelombang pembawa dengan satu atau lebih input (mono, stereo, SCA) sesuai dengan standar FCC. Gelombang pembawa yang telah dimodulasi kemudian diperkuat oleh wideband amplifier ke level yang dibutuhkan oleh tingkat berikutnya.

 

Direct FM merupakan teknik modulasi dimana frekuensi dari oscilator dapat diubah sesuai dengan tegangan yang digunakan. Seperti halnya oscilator, disebut voltage tuned oscilator (VTO) dimungkinkan oleh perkembangan dioda tuning varaktor yang dapat merubah kapasitansi menurut perubahan tegangan bias reverse (disebut juga voltage controlled oscillator atau VCO).

 

Kestabilan frekuensi dari oscillitor direct FM tidak cukup bagus, untuk itu dibutuhkan automotic frekuensi control system (AFC) yang menggunakan sebuah kristal oscillator stabil sebagai frekuensi referensi. Komponen AFC berperan sebagai pengatur frekuensi yang dibangkitkan oscillator lokal untuk dicatukan ke mixer, sehingga frekuensi oscillator menjadi stabil.

 

2. Multychannel Amplitude Modulation ( AM )

 

Yang pertama kali menyebar luaskan Aplikasi untuk hubungan antara fiber optik secara analog yang mana di mulai pada akhir tahun 1980 adalah CATV Network. Network jenis ini beroprasi pada frekuensi antara 50 sampai 88 Mhz dan dari 120 samapi 550 Mhz. Frekuensi anatara 88 samapi 120 Mhz tidak digunaka karena digunaaka untuk penyiaran radio FM. Network ini dapat membawa lebih dari 80 AM vestigal-side band (AM-VSB) video chanel, masing-masing mempunyai noise selebar 4 Mhz dari lebar chanel yang 6 Mhz, dengan S/N ratio sebesar 40db. Untuk mempertahankan kesamaan dengan coax base network yang sebelumnya, format dari multichanel AM-VSB juga dipilih untuk sistem fiber optik. Gambar 9.7 memperlihatkan teknik untuk menggabungkan N pesan yang berdiri sendiri. Sinyal informasi pada chanel I gelombang pembawa AM mempunyai frekuensi Fi , dimana I= 1,2,…,N. Power RF menggabungkan kemudian menjumlah AM sejumlah N, yang menghasilkan sinyal FDN, yang mana intensitas modulasinya seperti Laser Dioda. Seperti halnya penerima optik, susunan paralel dari filter bandpass memisahkan sinyal dari gelombang cariernya, sehingga didapat sinyal aslinya, dengan teknik standar RF.

 

Untuk sejumlah besar carier FDM dengan fasa acak, sinyal carier menumpangi power basis. Kemudian untuk N channel, modulasi optikal dengan index m berhubungan dengan modulasi index mi per channel dengan:

Jika setiap modulasi channel index mi nilainya sama dengan nilai mc, maka dirumuskan :

Hasilnya jika N sinyal adalah frekuensi yang telah di multiplex dan digunakan untuk memodulasi sumber optik tunggal maka rasio ke noise dari sinyal tunggal berkurang dengan 10 log N. Andaikata beberapa channel digabungkan maka sinyal akan memperkuat tegangan, maka karakteristik penurunan menjadi 10 log N.

 

Jika beberapa frekuensi carrier melewati peralatan non linier seperti laser dioda dapat membangkitkan sinyal yang berbeda dari frekuensi asalnya yang disebut juga sebagai frekuensi intermodulation, dan dapat menyebabkan interferensi pada kedua band dari channel. Hasilnya adalah penurunan jumlah sinyal yang dapat ditransmisikan.

 

Jika frekuensi kerja dari channel kurang dari 1 oktaf seluruh distorsi harmonis bahkan distorsi intermodulasi (IM) akan keluar dari passband. Jika signal passband mengandung banyak signal carrier. Beberapa IM akan muncul pada frekuensi pada sama. Hal ini disebut juga staking yang merupakan tambahan dari basis power. Dimana ada dua nada orde ketiga tersebar pada daerah operasi passband. Tripel beat product dibuat untuk dikonsentrasikan pada tengah – tengah channel, jadi pembawa pusat menerima inteferensi yang paling besar. Tabel 9.1 dan 9.2 menunjukkan distribusi dari third order tripel beat and two tone IM product untuk nomer channel N dari 1 – 8.

Hasil dari beat stcaking adalah secara umum pada CSO ( Composite Second Order ) dan CTB ( Composite Tripel Beat ) dan digunakan untuk menggunakan kemampuan dari multichannel hubungan AM

Kenapa Gelombang FM Lebih Jernih Dibanding AM?

Gelombang AM sudah lama ditinggal. Nyaris semua radio bermain di jalur FM. Kenapa sih FM lebih jernih?

Hingga tahun delapan puluhan, stasiun radio broadcast (siaran) banyak menggunakan modulasi AM (Amplitude Modulation). Pada saat itu, umumnya enggak ada siaran radio yang mampu menampilkan suara bening, apalagi stereo. Belum lagi kalau cuaca sedang enggak mendukung. Wah, pokoknya kita enggak bisa menikmati indahnya suara musik senyaman saat ini.

Setelah periode itu, mulai bermunculan stasiun radio siaran pengusung modulasi FM (Frequency Modulation). Jenis modulasi ini mampu memanjakan pendengar siaran karena menghasilkan suara yang lebih bening. Selain itu, ia dapat diterima dengan pola mono atau stereo. Maksudnya, jika radio penerima kita hanya bisa menerima siaran mode mono, maka ia menampilkan suara mono. Sedang radio penerima tipe stereo punya pilihan untuk menampilkan suara mono atau stereo beneran (real stereo) sesuai dengan yang dipancarkan oleh stasiun radio siaran.

Analogi modulasi

Dalam istilah teknik, kata modulasi mempunyai definisi yang cukup panjang. Tapi, hal itu dapat dijelaskan dengan analogi sederhana berikut: kalau kita ingin pergi ke tempat lain yang jauh (yang tidak bisa di lakukan dengan jalan kaki atau berenang), kita harus menumpang sesuatu.

Sinyal informasi (suara, gambar, data) juga begitu. Agar dapat dikirim ke tempat lain, sinyal informasi harus ditumpangkan pada sinyal lain. Dalam konteks radio siaran, sinyal yang menumpang adalah sinyal suara, sedangkan yang ditumpangi adalah sinyal radio yang disebut sinyal pembawa (carrier).

Jenis dan cara penumpangan sangat beragam. Dari tinjauan “penumpang”, cara menumpangkan manusia pasti berbeda dengan paket barang atau surat. Hal serupa berlaku untuk penumpangan sinyal analog yang berbeda dengan sinyal digital. Penumpangan sinyal suara juga akan berbeda dengan penumpangan sinyal gambar, sinyal film, atau sinyal lain.

Dari sisi pembawa, cara menumpang di pesawat terbang akan berbeda dengan menumpang di mobil, bus, truk, kapal laut, perahu, atau kuda. Hal yang sama juga terjadi pada modulasi. Di mana cara menumpang ke amplitudo gelombang carrier akan berbeda dengan cara menumpang di frekuensi gelombang carrier.

Gelombang/sinyal “carrier”

Gelombang/sinyal carrier adalah gelombang radio yang mempunyai frekuensi jauh lebih tinggi dari frekuensi sinyal informasi. Berbeda dengan sinyal suara yang mempunyai frekuensi beragam/variabel dengan range 20 Hz hingga 20 kHz, sinyal carrier ditentukan pada satu frekuensi saja. Frekuensi sinyal carrier ditetapkan dalam suatu alokasi frekuensi yang ditentukan oleh badan yang berwewenang.

Di Indonesia, alokasi frekuensi sinyal carrier untuk siaran FM ditetapkan pada frekuensi 87,5 MHz hingga 108 MHz. Alokasi itu terbagi untuk 204 kanal dengan penganalan kelipatan 100 kHz. Kanal pertama berada pada frekuensi 87,6 MHz, sedangkan kanal ke 204 berada pada frekuensi 107,9 MHz. Penetapan tersebut dan aturan lainnya tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 15 Tahun 2003.

Frekuensi carrier inilah yang disebutkan oleh stasiun radio untuk menunjukkan keberadaannya. Misalnya, Radio XYZ 100,2 FM atau Radio ABC 98,2 FM. 100,2 Mhz dan 98,2 MHz adalah frekuensi carrier yang dialokasikan untuk stasiun bersangkutan.

Karena berupa gelombang sinusoida, sinyal carrier mempunyai beberapa parameter yang dapat berubah. Perubahan itu dapat terjadi pada amplitudo, frekuensi, atau parameter lain. Contoh perubahan amplitudo dan perubahan frekuensi dari suatu sinyal asal ditunjukkan dalam gambar. Kemampuan untuk diubah inilah yang menjadi ide dari teknik-teknik modulasi.

 

Modulasi AM

Dari banyak teknik modulasi, AM dan FM adalah modulasi yang banyak diterapkan pada radio siaran. Keduanya dipakai karena tekniknya relatif lebih mudah dibandingkan dengan teknik-teknik lain. Dengan begitu, rangkaian pemancar dan penerima radionya lebih sederhana dan mudah dibuat.

Di pemancar radio dengan teknik AM, amplitudo gelombang carrier akan diubah seiring dengan perubahan sinyal informasi (suara) yang dimasukkan. Frekuensi gelombang carrier-nya relatif tetap. Kemudian, sinyal dilewatkan ke RF (Radio Frequency) Amplifier untuk dikuatkan agar bisa dikirim ke jarak yang jauh. Setelah itu, dipancarkan melalui antena.

Tentu saja dalam perjalanannya mencapai penerima, gelombang akan mengalami redaman (fading) oleh udara, mendapat interferensi dari frekuensi-frekuensi lain, noise, atau bentuk-bentuk gangguan lainnya. Gangguan-gangguan itu umumnya berupa variasi amplitudo sehingga mau tidak mau akan memengaruhi amplitudo gelombang yang terkirim.

Akibatnya, informasi yang terkirim pun akan berubah dan ujung-ujungnya mutu informasi yang diterima jelas berkurang. Efek yang kita rasakan sangat nyata. Suara merdu Andien yang mendayu akan terdengar serak, aransemen Dewa yang bagus itu jadi terdengar enggak karuan, dan suara Iwan Fals benar-benar jadi fals.

Cara mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh redaman, noise, dan interferensi cukup sulit. Pengurangan amplitudo gangguan (yang mempunyai amplitudo lebih kecil), akan berdampak pada pengurangan sinyal asli. Sementara, peningkatan amplitudo sinyal asli juga menyebabkan peningkatan amplitudo gangguan. Dilema itu bisa saja diatasi dengan menggunakan teknik lain yang lebih rumit. Tapi, rangkaian penerima akan menjadi mahal, sementara hasil yang diperoleh belum kualitas Hi Fi dan belum tentu setara dengan harga yang harus dibayar.

Itulah barangkali yang menyebabkan banyak stasiun radio siaran bermodulasi AM pindah ke modulasi FM. Konsekuensinya, mereka juga harus pindah frekuensi carrier karena aturan alokasi frekuensi carrier untuk siaran AM berbeda dengan siaran FM. Frekuensi carrier untuk siaran AM terletak di Medium Frequency (300 kHz – 3 MHz/MF), sedangkan frekuensi carrier siaran FM terletak di Very High Frequency (30 MHz – 300 MHz/VHF).

Modulasi FM

Di pemancar radio dengan teknik modulasi FM, frekuensi gelombang carrier akan berubah seiring perubahan sinyal suara atau informasi lainnya. Amplitudo gelombang carrier relatif tetap. Setelah dilakukan penguatan daya sinyal (agar bisa dikirim jauh), gelombang yang telah tercampur tadi dipancarkan melalui antena.

Seperti halnya gelombang termodulasi AM, gelombang ini pun akan mengalami redaman oleh udara dan mendapat interferensi dari frekuensi-frekuensi lain, noise, atau bentuk-bentuk gangguan lainnya. Tetapi, karena gangguan itu umumnya berbentuk variasi amplitudo, kecil kemungkinan dapat memengaruhi informasi yang menumpang dalam frekuensi gelombang carrier.

Akibatnya, mutu informasi yang diterima tetap baik. Dan, kualitas audio yang diterima juga lebih tinggi daripada kualitas audio yang dimodulasi dengan AM. Jadi, musik yang kita dengar akan serupa dengan kualitas musik yang dikirim oleh stasiun radio sehingga enggak salah kalau stasiun-stasiun radio siaran lama (yang dulunya AM) pindah ke teknik modulasi ini. Sementara stasiun-stasiun radio baru juga langsung memilih FM.

Selain itu, teknik pengiriman suara stereonya juga tidak terlalu rumit. Jadinya, rangkaian penerima FM stereo mudah dibuat, sampai-sampai dapat dibuat seukuran kotak korek api. Produk FM autotuner seukuran kotak korek api ini sudah gampang diperoleh di kaki lima dengan harga yang murah. Kualitasnya cukup memadai untuk peralatan semurah dan sekecil itu.

Rangkaian “squelch”

Pada penerima FM (yang juga ada di pesawat televisi), sinyal radio yang hilang akan menyebabkan terdengar suara desis noise yang cukup keras. Karena mengganggu, sebagian besar penerima FM dilengkapi dengan rangkaian squelch yang berfungsi untuk mematikan audio jika tidak terdeteksi adanya sinyal siaran. Pada radio komunikasi VHF dan UHF (yang juga menggunakan FM), rangkaian squelch dapat diatur sedemikian rupa sehingga masih dapat mendengarkan sinyal suara yang volumenya sedikit di atas desis noise.

Pembagian kanal FM di Indonesia

Jumlah kanal yang disiapkan dalam alokasi frekuensi 87,5 MHz hingga 108 MHz memang sebanyak 204 kanal. Tapi, tentu saja hal itu tidak menyebabkan 204 stasiun radio bisa didirikan di kota kita. Sebab jarak antarkanal yang terlalu rapat akan menyebabkan interferensi antarstasiun radio.

Karena itu, aturan dalam Keputusan Menteri Perhubungan No KM 15 Tahun 2003 mensyaratkan jarak minimal antarkanal dalam satu area pelayanan (yang umumnya se-Kota atau se-Kabupaten) adalah 800 kHz. Kecuali pada kota besar semacam Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Medan yang sudah telanjur mempunyai stasiun cukup banyak. Jarak minimal untuk kota-kota itu adalah 400 kHz.

Pembagian kanal untuk tiap area layanan tentunya juga disesuaikan dengan faktor-faktor seperti : kepadatan penduduk, perkembangan kawasan, dan lainnya. Sebab, apalah gunanya menyediakan banyak kanal jika pendirian stasiun-stasiun baru di suatu area layanan tidak menjanjikan.

Kecantikan Wanita

Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai. untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan. Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari. Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian. Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kecilkan seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain. Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang. Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi pada kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta dia berikan. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.

Dalil puasa nabi daud as

Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata: Rasulullah saw.
dikabarkan bahwa aku pernah berkata akan selalu salat qiyam, akan berpuasa
pada siang harinya sepanjang hidupku. Kemudian Rasulullah saw. bertanya:
Betulkah engkau pernah bilang demikian? Aku menjawab: Betul, aku pernah
mengatakannya, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Sungguh engkau
tidak akan mampu melakukan yang demikian. Oleh karena itu berpuasalah dan
juga berbukalah. Tidurlah dan bangun malamlah. Berpuasalah tiga hari dalam
setiap bulan. Sebab, satu kebajikan itu nilainya sama dengan sepuluh
kebajikan. Dan yang demikian itu (puasa tiga hari dalam tiap bulan) nilainya
sama dengan puasa satu tahun. Lalu aku katakan kepada Rasulullah saw: Tetapi
aku mampu berbuat lebih dari itu. Beliau bersabda: Berpuasalah sehari dan
tidak puasa dua hari. Aku katakan kepada beliau: Tetapi aku mampu berbuat
lebih dari itu. Rasulullah saw. bersabda: Jika begitu, berpuasalah sehari
dan berbukalah sehari, itu adalah puasa nabi Daud as. dan itulah puasa yang
tengah-tengah. Kemudian aku berkata: Sungguh aku mampu berbuat lebih dari
itu. Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada yang lebih utama dari itu. Abdullah
bin Amru ra. berkata: Aku terima tiga hari sebagaimana yang dikatakan
Rasulullah saw. adalah lebih aku sukai dari istri dan hartaku.
[HR.Muslim, no.1962 ]

HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUTAR BULAN RAMADHAN

Kami menilai perlunya dibawakan pasal ini pada kitab kami, karena adanya sesuatu yang teramat penting yang tidak diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia, dan sebagai penegasan terhadap kebenaran, maka kami katakan :

 

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan sunnah Nabi secara adil, (untuk) memusnahkan penyimpangan orang-orang sesat dari sunnah, dan mematahkan ta’wilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu sunnah.

 

Sejak bertahun-tahun sunnah telah tercampur dengan hadits-hadits yang dhaif, dusta, diada-adakan atau lainnya. Hal ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan penjelasan dan keterangan yang sempurna.

 

Orang yang melihat dunia para penulis dan para pemberi nasehat akan melihat bahwa mereka –kecuali yang diberi rahmat oleh Allah– tidak memperdulikan masalah yang mulia ini walau sedikit perhatianpun walaupun banyak sumber ilmu yang memuat keterangan shahih dan menyingkap yang bathil.

 

Maksud kami bukan membahas dengan detail masalah ini, serta pengaruh yang akan terjadi pada ilmu dan manusia, tapi akan kita cukupkan sebagian contoh yang baru masuk dan masyhur dikalangan manusia dengan sangat masyhurnya, hingga tidaklah engkau membaca makalah atau mendengar nasehat kecuali hadits-hadits ini -sangat disesalkan- menduduki kedudukan tinggi. (Ini semua) sebagai pengamalan hadits : “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat …” [Riwayat Bukhari 6/361], dan sabda beliau : “Agama itu nasehat” [Riwayat Muslim no. 55]

 

Maka kami katakan wabillahi taufik :

 

Sesungguhnya hadits-hadits yang tersebar di masyarakat banyak sekali, hingga mereka hampir tidak pernah menyebutkan hadits shahih –walau banyak– yang bisa menghentikan mereka dari menyebut hadits dhaif.

Semoga Allah merahmati Al-Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan : “(Menyebutkan) hadits shahih itu menyibukkan (diri) dari yang dhaifnya”.

Jadikanlah Imam ini sebagai suri tauladan kita, jadikanlah ilmu shahih yang telah tersaring sebagai jalan (hidup kita).

Dan (yang termasuk) dari hadits-hadits yang tersebar digunakan (sebagai dalil) di kalangan manusia di bulan Ramadhan, diantaranya.

 

Pertama.

“Artinya : Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan, niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya ….” Hingga akhir hadits ini.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no.886) dan Ibnul Jauzi di dalam Kitabul Maudhuat (2/188-189) dan Abu Ya’la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al-Muthalibul ‘Aaliyah (Bab/A-B/tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah dari Abu Mas’ud al-Ghifari.

Hadits ini maudhu’ (palsu), penyakitnya pada Jabir bin Ayyub, biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata : “Mashur dengan kelemahannya”. Juga dinukilkan perkataan Abu Nua’im, ” Dia suka memalsukan hadits”, dan dari Bukhari, berkata, “Mungkarul hadits” dan dari An-Nasa’i, “Matruk” (ditinggalkan) haditsnya”.

Ibnul Jauzi menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu, dan Ibnu Khuzaimah berkata serta meriwayatkannya, “Jika haditsnya shahih, karena dalam hatiku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al-Bajali”.

 

Kedua.

“Artinya :Wahai manusia, sungguh bulan yang agung telah datang (menaungi) kalian, bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara yang wajib pada bulan yang lain …. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka ….” sampai selesai.

Hadits ini juga panjang, kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan Al-Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al-Asbahani dalam At-Targhib (q/178, b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad’an dari Sa’id bin Al-Musayyib dari Salman.

Hadits ini sanadnya Dhaif, karena lemahnya Ali bin Zaid, berkata Ibnu Sa’ad, Di dalamnya ada kelemahan dan jangang berhujjah dengannya, berkata Imam Ahmad bin Hanbal, Tidak kuat, berkata Ibnu Ma’in. Dha’if berkata Ibnu Abi Khaitsamah, Lemah di segala penjuru, dan berkata Ibnu Khuzaimah, Jangan berhujjah dengan hadits ini, karena jelek hafalannya. Demikian di dalam Tahdzibut Tahdzib (7/322-323).

Dan Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits ini, Jika benar kabarnya. berkata Ibnu Hajar di dalam Al-Athraf, Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad’an, dan dia lemah, sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As-Suyuthi di dalam Jami’ul Jawami (no. 23714 -tertib urutannya).

Dan Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di dalam Illalul Hadits (I/249), hadits yang Mungkar

 

Ketiga.

“Artinya : Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat”

Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al-Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa’id, dari Ad-Dhahhak dari Ibu Abbas. Nashsyal (termasuk) yang ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad-Dhahhak tidak mendengar dari Ibnu Abbas.

Diriwayatkan oleh At-Thabrani di dalam Al-Ausath (1/q 69/Al-Majma’ul Bahrain) dan Abu Nu’aim di dalam At-Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Dawud, dari Zuhair bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih dari Abu Hurairah.

Dan sanad hadits ini lemah. Berkata Abu Bakar Al-Atsram, “Aku mendengar Imam Ahmad -dan beliau menyebutkan riwayat orang-orang Syam dari Zuhair bin Muhammad- berkata, “Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair,-pent) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam, -pent) yang dhoif itu”. Ibnu Abi Hatim berkata, “Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak, karena jeleknya hafalan dia”. Al-Ajalaiy berkata. “Hadits ini tidak membuatku kagum”, demikianlah yang terdapat pada Tahdzibul Kamal (9/417).

Aku katakan : Dan Muhammad bin Sulaiman Syaami, biografinya (disebutkan) pada Tarikh Damasqus (15/q 386-tulisan tangan) maka riwayatnya dari Zuhair sebagaimana di naskhan oleh para Imam adalah mungkar, dan hadits ini
darinya.

 

Keempat

“Artinya : Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun penuh”

Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan mu’allaq dalam shahih-nya (4/160-Fathul Bari) tanpa sanad.

 

Ibnu Khuzaimah telah memalukan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870), At-Tirmidzi (723), Abu Dawud (2397), Ibnu Majah (1672) dan Nasa’i di dalam Al-Kubra sebagaimana pada Tuhfatul Asyraaf (10/373), Baihaqi (4/228) dan Ibnu Hajjar dalam Taghliqut Ta’liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu Hurairah.

 

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (4/161) : “Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak, hingga kesimpulannya ada tiga penyakit : idhthirah (goncang), tidak diketahui keadaan Abil Muthawwas dan diragukan pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah”.

 

Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkannya ::Jika khabarnya shahih, karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya, hingga hadits ini dhaif juga:.

Wa ba’du : Inilah empat hadits yang didhaifkan oleh para ulama dan di lemahkan oleh para Imam, namun walaupun demikian kita (sering) mendengar dan membacanya pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya dan
selain pada bulan itu pada umumnya.

Tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna yang benar, yang sesuai dengan syari’at kita yang lurus baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah, akan tetapi (hadits-hadits ini) sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan terlebih lagi –segala puji hanya bagi Allah– umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan umat-umat yang lain. Dengan sanad dapat diketahui mana hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak, membedakan yang shahih dari yang jelek. Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit, telah benar dan baik orang yang menamainya : “Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran khabar”.

Tahlilan dan Selamatan Menurut madzhab Syafi’i

Acara tahlilan, yaitu acara pengiriman pahala bacaan kepada mayit/roh,
merupakan tradisi yang telah melembaga di kalangan masyarakat atau dengan
kata lain, telah menjadi milik masyarakat Islam di tanah air.
Dalam acara tersebut lazimnya dibacakan ayat-ayat Al Qur’an tertentu, bacaan
laa ilaaha illallah, subhanallah dll, dengan niat pahala bacaan tersebut
dihadiahkan / dikirimkan kepada mayit / roh tertentu atau arwah kaum
Muslimin pada umumnya.
Satu hal yang belum banyak diketahui kaum muslimin itu sendiri ialah, pada
umumnya mereka, mengaku BERMADZAB SYAFI’I, baik dengan pengertian yang
sebenarnya atau hanya ikut-ikutan. Namun demikian, ironisnya justru amalan
Tahlilan atau Selamatan yang pahalanya dikirimkan kepada mayit itu
bertentangan dengan berbagai pendapat ulama-ulama dari kalangan madzhab
Syafi’I, termasuk Imam Syafi’i sendiri. Kalau toh ada pendapat lain dari
kalangan madzhab tersebut maka jumlahnya sangat sedikit dan dipandang lemah,
sebab bertentangan dengan ajaran Al Qur’an (ayat 39 Surat An Najm dan Sunnah
Rasulullah serta para sahabatnya), yang mendasari pendapat mereka.

Berikut ini penulis bawakan sejumlah pendapat Ulama-Ulama Syafi’i tentang
masalah tersebut yang dikutib dari Kitab-kitab tafsir, Kitab-kitab Fiqih dan
Kitab-kitab Syarah Hadits, yang penulis pandang mu’tabar (jadi pegangan) di
kalangan pengikut-pengikut madzhab Syafi’i.

Imam An Nawawi menyebutkan di dalam kitabnya, SYARAH MUSLIM, demikian :
“Adapun bacaaan Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit), maka yang
masyur dalam madzhab Syafi’i, tidak dapat sampai kepada mayit yang
dikirimi…Adapun dalil Imam Syafi’i dan pengikutnya adalah firman Allah
(yang artinya), “Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala
usahanya sendiri” dan sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, “Apabila
manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga
hal yaitu, sedakah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang
berdoa untuknya.” (An Nawawi, SYARAH MUSLIM, Juz 1 Hal.90).

Juga Imam Nawawi di dalam Kitab Takmilatul Majmu’ Syarah Mahadzab mengatakan
: “Adapun bacaan Qur’an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit dan mengganti
shalatnya mayit tsb, menurut Imam Syafi’i dan Jumhurul Ulama’, tidak sampai
kepada mayit yang dikirimi. Keterangan ini telah diulang-ulang oleh Imam
Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Muslim.” (As Subuki, TAKMILATUL MAJMU’,
syarah MUHADZAB, juz X, hal. 426). (Mengganti shalat mayit, maksudnya
menggantikan shalat yang ditinggalkan almarhum semasa hidupnya).

Al Haitami, di dalam Kitabnya, Al FATAWA AL KUBRO AL FIQHIYAH, mengatakan
demikian : “Mayit, tidak boleh dibacakan apapun, berdasarkan keterangan yang
mutlak dari Ulama’ Mutaqaddimin (terdahulu), adpun bacaan (yang pahalanya
dikirimkan kepada mayit) tidak dapat sampai kepadanya, sebab pahala bacaan
tersebut untuk pembacanya saja. Sedang pahala hasil amalan tidak dapat
dipindahkan dari amil (yang mengamalkan) perbuatan itu, berdasarkan firman
Allah, “Dan Manusia tidak memperoleh, kecuali pahala dari hasil usahanya
sendiri.” (Al Haitami, AL FATAWA AL KUBRA AL FIQHIYAH, juz 2, hal. 9).

Imam Muzani, di dalam Hamisy AL UMM, mengatakan demikian : “Rasulullah
shalallaahu’alaihi wasallam memberitahukan sebagaimana yang diberitakan
Allah, bahwa dosa seseorang akan menimpa dirinya sendiri seperti halnya
amalnya adalah untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain dan tidak dapat
dikirimkan kepada orang lain.” (Tepi AL UMM, AS SYAFI’I, juz 7, hal. 269).

Imam Al Khaizin di dalam tafsirnya mengatakan sebagai berikut: “Dan yang
masyhur dalam madzhab Syafi’i adalah, bacaan Qur’an (yang pahalanya
dikirimkan kepada mayit) tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi.”
(Al Khazin, AL JAMAL, juz 4, hal. 236).

Di dalam tafsir Jalalain disebutkan demikian : “Maka sesorang tidak
memperoleh pahala sedikitpun dari usaha orang lain.” (Tafsir JALALAIN,
2/197).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya TAFSIRUL QUR’ANIL AZHIM menafsirkan ayat 39
Surat An Najm dengan mengatakan “Yakni, sebagaimana dosa seseorang tidak
dapat menimpa kepada orang lain, demikian juga manusia tidak dapat
memperoleh pahala melainkan dari hasil amalnya sendiri, dan dari ayat yang
mulia ini (ayat 39 An Najm), Imam Syafi’i ra. dan Ulama-ulama yang
mengikutinya mengambil kesimpulan, bahwa bacaan yang pahalanya dikirimkan
kepada mayit tidak akan sampai, karena bukan dari hasil usahanya sendiri.
Oleh karena itu Rasulullah shalallaahu’alaihi wasallam tidak pernah
menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman pahala bacaan), dan tidak
pernah memberikan bimbingan, baik dengan nash maupun dengan isyarat. Juga
tidak ada seorang sahabatpun yang pernah mengamalkan perbuatan tersebut.
Kalau toh amalan semacam itu memang baik, tentu mereka lebih dahulu
mengerjakannya, padahal amalan qurban (mendekatkan diri kepada Allah
shalallaahu’alaihi wasallam) hanya terbatas yang ada nash-nashnya (dalam Al
Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallaahu’alaihi wasallam) dan tidak boleh
dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat.”

Demikian diantaranya berbagai pendapat Ulama Syafi’iyah tentang acara
tahlilan atau acara pengiriman pahala bacaan kepada mayit/roh, yang ternyata
mereka mempunyai satu pandangan yaitu, mengirimkan pahala bacaan Qur’an
kepada mayit / roh tidak akan sampai kepada mayit atau roh yang dikirimi,
terlebih lagi kalau yang dibaca itu selain Al Qur’an, tentu saja akan lebih
tidak sampai kepada mayit yang dikirimi. Jika sudah jelas bahwa pengiriman
pahala tersebut tidak dapat sampai, maka acara-acara semacam itu adalah
sia-sia belaka, atau merupakan perbuatan tabdzir.
Padahal Islam melarang umatnya berbuat sia-sia dan tabdzir. Adapaun dasar
hukum dari pendapat mereka itu adalah firman Allah dalam surat An Najm ayat
39 dan Hadits Rasulullah shalallaahu’alaihi wasallamtentang terputusnya amal
manusia apabila ia telah meninggal dunia, kecuali tiga hal, yaitu sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh, baik laki-laki maupun
perempuan yang berdoa untuk orang tuanya. Kemudian timbul pertanyaan,
bagaimana kalau seandainya setiap usai tahlilan lalu berdoa, ALLAHUMA AUSHIL
MAA WARA’NAAHU ILA RUHI FULAN (Ya Allah sampaikanlah pahala bacaan kami tadi
kepada roh si fulan)? Pertanyaan tadi dapat dijawab demikian : Ulama telah
sepakat, bahwa pengiriman pahala bacaan itu tidak sampai kepada toh yang
dikirimi, sebab bertentangan dengan firman Allah dalam Surat An Najm ayat
39. Adalah sangat janggal, kalau kita berbuat mengirimkan pahala bacaan
kepada mayit, yang berarti kita telah melanggar syari’at-Nya, tetapi
kemudian kita mohon agar perbuatan melanggar syari’at itu dipahalahi dan
lebih dari itu, mohon agar do’a tersebut dikabulkan. Jadi, kalau toh sehabis
acara tahlilan itu, kita lalu berdoa seperti itu, rasanya adalah janggal dan
tetap tidak dapat dibenarkan, karena mengandung hal-hal yang kontradiktif
(bertentangan); yaitu di satu pihak, doa adalah ibadah dan di pihak lain
amalan megirim pahala bacaan adalah amalan sia-sia, yang berarti melanggar
syari’at, yang kemudian, amalan semacam itu kita mohonkan agar dipahalahi,
dan pahalanya disampaikan kepada roh.

SELAMATAN KEMATIAN
Demikian juga selamatan atau berkumpul dengan hidangan makanan di rumah
keluarga mayit, baik pada saat hari kematian, hari ke dua, hari ke tiga, ke
tujuh, ke empat puluh, ke seratus dsb..maupun dalam upacara yang sifatnya
massal yang lazimnya dilakukan di perkuburan (maqrabah) yang biasa disebut
khaul dll. yang di situ juga di adakan acara selamatan atau makan-makan,
maka sebenarnya apabila kita periksa di dalam kitab-kitab Syafi’iyah, baik
kitab-kitab fiqih, tafsir maupun syarah-syarah hadits, amalan tersebut
dinyatakan sebagai amalan ‘terlarang’ atau dengan kata lain ‘haram’.
Hal ini tentu belum banyak diketahui oleh kalangan madzhab Syafi’i itu
sendiri, atau kalau toh ada yang tahu, maka jumlahnya tidak banyak, maka
marilah kita ikuti bersama bagaimana pandangan mereka tentang masalah ini.
Di dalam kitab Fiqih I’anatut Thalibin dinyatakan demikian: “Ya, apa yang
dikerjakan orang, yaitu berkumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya
makanan untuk itu, adalah termasuk bid’ah munkarat (bid’ah yang di ingkari
agama) yang bagi orang yang memberantasnya akan diberi pahala.” (I’anatut
Thalibin. Syarah Fat-hul Mu’in, juz 2, hal.145).

Imam Syafi’i sendiri tidak menyukai adanya berkumpul di rumah ahli mayit
ini, seperti yang beliau kemukakan dalam Kitab AL UMM sbb : “Aku tidak
menyukai ma’tam, yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayit), meskipun di situ
tidak ada tangisan, karena hal itu malah akan menimbulkan kesedihan baru.”
(As Syafi’i AL UM, juz 1, hal. 248).
Selanjutnya di dalam Kitab I’anatut Thalibin tersebut dikatakan demikian:
“Dan apa yang dibiasakan orang tentang hidangan makanan oleh keluarga mayit
untuk dihidangkan kepada para undangan, adalah bid’ah yang tidak disukai
dalam agama, sebagaimana halnya berkumpul di rumah keluarga mayit itu
sendiri, karena ada hadits shahih yang di riwayatkan Jarir yang berkata:
“Kami mengganggap, bahwa berkumpul di rumah keluarga mayit dan menghidangkan
makanan adalah sama dengan hukum niyahah (meratapi mayit) yakni haram.”
(I’anatut Thalibin, juz 2, hal. 146).

Juga pengarang I’anah mengutip keterangan dari Kitab BAZZAZIYAH sebagai
berikut: “Dan tidak disukai menyelenggarakan makan-makan pada hari pertama
(kematian), hari ke tiga, sesudah seminggu dan juga memindahkan makanan ke
kuburan secara musiman (seperti peringatan khaul – pen) (I’anatut thalibin,
juz2, hal. 146).

Di dalam Kitab Fiqih Mughnil Muhtaj disebutkan demikian: “Adapun menyediakan
hidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya orang banyak di situ,
adalah bid’ah, dan dalam hal ini Imam Ahmad yang sah dari Jarir bin
Abdullah, ia berkata, “Kami menganggap, bahwa berkumpul di rumah keluarga
mayit dan menghidangkan makanan oleh keluarga mayit untuk acara itu, adalah
sama hukumnya dengan niyahah (meratapi mayit), yaitu haram.” (MUGHNIL
MUHTAJ, juz 1, hal. 268).

Di dalam Kitab Fiqih Hasyiyatul Aqlyubi, dinyatakan demikian: “Syekh Ar
Ramli berkata, “Di antara bid’ah yang munkarat (yang tidak dibenarkan
agama), yang tidak disukai dikerjakan, yaitu sebagaimana diterangkan di
dalam Kitab Ar Raudlah, yaitu apa yang dikerjakan orang, yang disebut:
kirafah,” dan hidangan makanan untuk acara berkumpul di rumah keluarga
mayit, baik sebelum maupun sesudah kematian, dan juga penyembelihan di
kuburan.” (Hasyiyatul Qalyubi, juz 1, hal. 353).

Di dalam Kitab Fiqih karangan Imam Nawawi, AL MAJMU’ SYARAH MUHADZAB, antara
lain dikatakan demikian: “Adapun penyediaan hidangan makanan oleh keluarga
mayit dan berkumpulnya orang banyak di situ adalah tidak ada nashnya sama
sekali, yang jelas itu adalah bid’ah. ” (An-Nawawi, AL MAJMU’ SYARAH
MUHADZAB, juz 5, hal. 286).

Juga pengarang I’anatut Thalibin mengutip keterangan dalam Kitab AL JAMAL
SYARAH AL MINHAJ, yang berbunyi demikian: “Dan di antara bid’ah yang
munkarat yang tidak disukai, ialah apa yang biasa dikerjakan orang tentang
cara menyampaian rasa duka cita, berkumpul dan acara hari ke empatpuluh,
bahkan semua itu adalah haram.” (I’anatut Thalibin, juz2,hal.145-146).

Selanjutnya pengarang Kitab tersebut mengutip keterangan dalam Kitab
TUHFATUL MUHTAJ SYARAH AL MINHAAJ, sebagai berikut: “Apa yang dibiasakan
orang tentang menghidangkan makanan untuk acara mengundang orang banyak ke
rumah mayit adalah bid’ah yang tidak disukai, sebab ada hadits yang
diriwayatkan Jarir, bahwa ia berkata, “Kami (para sahabat Rasulullah
shalallaahu’alaihi wasallam) menganggap, bahwa berkumpul di rumah keluarga
mayit dan menghidangkan makanan untuk itu adalah sama hukumnya dengan
niyahah (meratapi mayat), yaitu haram.” (I’anatutThalibin, juz 2,
hal.145-146).

Lebih lanjut pengarang kitab tersebut mengutip fatwa Mufti Madzhab Syafi’i,
Ahmad Zaini bin Dahlan sebagai berikut: “Dan tidak ada keraguan sedikitpun,
bahwa mencegah umat dari bid’ah munkarat ini adalah berarti menghidupkan
sunnah Rasulullah shalallaahu’alaihi wasallam, mematikan bid’ah, membuka
seluas-luasnya pintu kebaikan dan menutup serapat-rapatnya pintu-pintu
keburukan, karena orang-orang memaksa-maksa diri mereka berbuat hal-hal yang
akan membawa kepada hal yang diharamkan.” (I’natut Thalibin, juz 2, hal.
145-146).

Dan di dalam Kitab Fiqih Alal Madzahibil Arba’ah, dinyatakan demikian: “Dan
di antara bid’ah yang tidak di sukai agama ialah, apa yang dikerjakan orang
tentang memotong binatang-binatang ketika mayit di keluarkan dari tempat
bersemayamnya atau di kuburan dan juga menyediakan hidangan makanan yang
diperuntukkan bagi orang-orang yang ta’ziyah.” (Abdurrahman Al Jaza’iri, AL
FIQHU ALAL MADZAHIBIL ARBA’AH, juz 1, hal.539).

Demikian pendapat Ulama Syafi’iyah tentang selamatan kematian yang sepakat
bahwa amalan tersebut adalah BID’AH MUNKARAT. Dasar mereka ialah kesepakatan
(ijma’) Sahabat Rasulullah shalallaahu’alaihi wasallam, yang menganggap
‘haram’ hukum amalan tersebut.
Jika timbul pertanyaan tentang masalah semacam ini dapat dijawab sbb: Bahwa
sedekah itu akan lebih tepat mengena pada sasarannya, lebih berarti dan
tentu lebih utama, kalau di wujudkan dalam bentuk selamatan atau walimahan,
tapi diberikan langsung kepada FUQORA’ MASAKIN, sebab dalam acara selamatan,
kebanyakan yang hadir dan yang di undang adalah orang-orang yang mampu,
sehingga apa yang diniatkan sebagai sedekah itu tentu akan kurang berarti
bagi mereka, kalau tidak boleh dikatakan hampir tidak berarti sama sekali.
Ini kalau dipandang makna sedekah itu dari segi kepantingan materil para
fuqaha dan masakin.
Tambahan lagi, kalau amalan tersebut diniatkan sebagai sedekah, maka akan
terjadi talbisul haq bil bathil (mencampuraduk antara yang haq dan bathil).
Sebab di satu pihak, sedekah adalah di perintahkan agama sedang dipihak lain
yaitu berkumpul dengan hidangan makanan di rumah ahlil mayit adalah haram,
dan mengirim pahala semacam itu sendiri juga perbuatan sia-sia. Di sinilah
letaknya, bahwa kalau hidangan makanan itu diniatkan sebagai sedekah, maka
terjadi campuraduk antara yang haq dan bathil.

SANTUNAN UNTUK KELUARGA MAYIT
Menurut sunnah Rasulullah shalallaahu’alaihi wasallam, kepada tetangga dari
keluarga yang ditimpa musibah kematian anggota keluarganya, dianjurkan agar
mambantu meringankan beban penderitaan lahir maupun bathin, dengan sekedar
memberikan santunan berupa bahan makan, lebih-lebih jika keluarga mayit itu
orang-orang yang tidak mampu atau keluarga miskin.
Imam Syafi’i didalam Kitabnya AL UMM, antara lain mengatakan demikian: “Dan
aku menyukai, bagi tetangga mayit atau sanak kerabatnya untuk membuatkan
makanan bagi keluarga mayit, pada hari datangnya musibah itu dan malamnya,
yang sekiranya dapat mengeyangkan mereka, dan amalan yang demikian itu
adalah sunnah.” ( As Syafi’i, AL UMM, juz 1, hal.247).

Selanjutnya Imam Syafi’i mengatakan bahwa hal itu berdasarkan riwayat dari
Abdullah bin Ja’far sbb: “Abdullah bin Ja’far berkata, tatkala tersiar
berita terbunuhnya Ja’far, Rasulullah shalallaahu’alaihi wasallambersabda,
“Hendaklah kamu membuat makanan untuk keluarga Ja’far, sebab mereka telah
ditimpa hal yang menyusahkan.” (HR. As Syafi’i/AL UMM, juz 1, hal. 247).

Hadits ini menunjukkan bahwa menurut sunnah Rasulullah shalallaahu’alaihi
wasallam, kaum Muslimin baik tetangga mayit atau sanak kerabatnya, hendaknya
berusaha menghibur keluarga mayit yang sedang ditimpa kesusahan itu dengan
cara memberikan bantuan barupa bahan makanan dan semacamnya, terutama kepada
keluarga mayit yang tidak mampu atau miskin. Maka Imam Syafi’i menganjurkan
juga kepada kaum Muslimin agar mengamalkan ajaran yang mulia ini, karena hal
itu sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallaahu’alaihi wasallam. Sementara
tradisi masyarakat muslim di tanah air kita ini masih berbuat hal yang
bertentangan dengan anjuran Imam Syafi’i tersebut yaitu masih berlanjutnya
tradisi selamatan hari ke tiga, ke tujuh, ke empat puluh, ke seratus, ke
seribu dsb. dengan menyediakan hidangan makanan yang di samping acara
selamatan juga disertai acara tahlilah, yang justru keduanya merupakan
amalan yang tidak dibenarkan oleh ulama-ulama Syafi’iyah yang berpedoman
dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallaahu’alaihi wasallam.