Abdullah Bin Mas’ud: Penggembala yang Menjadi Ulama

Tokoh kita kali ini adalah seorang ahli ibadah, juga seorang ulama fikih, pemimpin keagamaan masyarakat Irak, dan peletak mazhab fikih di Kufah. Beliau juga termasuk dalam golongan para sahabat yang pertama masuk Islam.

Sangat jenius, begitu juga Rasulullah SAW menyifatinya. Beliau mendapat kesempatan emas turut dalam perang Badar Kubra. Sebelum hijrah, beliau dipersaudarakan dengan Zubeir bin Awwam. Kemudian sesampai di madinah al munawwarah, beliau dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Mu’az. Pada masa khalifah Umar bin Khattab, beliau diutus ke Qadisiyyah menjadi guru dan pengajar bagi muslimin di daerah itu.

Sebelum masuk Islam, beliau adalah seorang penggembala domba milik ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Sebenarnya beliau sudah sejak awal mendengar kabar diutusnya Rasulullah SAW. Tapi karena usianya yang masih sangat muda, ditambah kesibukannya menggembala, beliau acuh dengan kabar tersebut. Bagaimanapun keadaannya, bila Allah SWT sudah berkenan memberi hidayah, tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi.

Suatu hari, ketika panas matahari sudah begitu menyengat, datanglah dua orang yang sangat berwibawa mendekatinya. Terlihat dari wajah dan bibir mereka, keduanya sedang sangat kehausan. Setelah dekat, keduanya berkata, “Tolong peraskan susu untuk kami.” Sang penggembala menjawab, “Maaf, saya tidak bisa. Domba-domba ini bukan milik saya.” Keduanya kembali berkata, “Kalau begitu, tolong ambilkan seekor yang masih sangat kecil.” Setelah domba itu diberikan, salah satu dari mereka mengusap teteknya sambil mengucap Nama Allah SWT. Kontan penggembala itu terheran-heran, mana ada domba sekecil itu akan mengeluarkan susu.

Tapi lama-kelamaan, susu itu mengembang lalu mengeluarkan air susu dengan derasnya. Setelah hilang rasa dahaga mereka bertiga, pengembala itu pun berkata, “Tolong ajari aku kalimat yang tadi engkau baca sebelum memeras.” Salah satu dari dua orang yang ternyata adalah Rasulullah SAW itu menjawab, “Engkau sungguh anak yang jenius.” Mulai saat itu sang penggembala belajar Islam.

Itulah sahabat Rasulullah SAW yang bernama Abdullah bin Mas’ud. Seorang sahabat yang bertugas membawa sandal Rasulullah SAW. Beliau bisa kapan dan di mana saja bersama Rasulullah SAW. Oleh karena itu, tak mengherankan bila beliau mendapatkan banyak hal dari Rasulullah SAW yang tidak didapatkan para sahabat lain. Baik itu dalam bepergian, di rumah, maupun dalam jaga dan tidur beliau. Karena itu, banyak sahabat mengatakan bahwa beliaulah sahabat yang paling mirip dengan Rasulullah SAW dalam hal tindak tanduknya.

Suatu kali, sahabat Umar ra dan Abu Bakar ra bersama Rasulullah SAW memergoki beliau sedang membaca al Qur’an dalam sholatnya, maka Rasulullah SAW segera berkata, “Barangsiapa yang ingin membaca al Qur’an sesuai sebagaimana ia diturunkan, maka bacalah mengikuti bacaan Ibnu Ummi Maktum, Abdullah bin Mas’ud.” Ini adalah sebuah pengakuan langsung dari Rasulullah SAW bahwa beliau sudah bisa menerapkan ajaran-ajaran Islam sampai gaya pembacaan al Qur’annya pun sudah mirip dengan ketika al Qur’an itu diturunkan.

Imam al ‘Aini, dalam menerangkan hadis-hadis Bukhari, mengatakan bahwa Rasulullah SAW memberikan perlakuan khusus kepada Abdullah. Beliau bisa datang kepada Rasulullah SAW kapan saja. Bahkan tidak ada satu hal pun yang dirahasiakan kepada beliau. Beliaulah yang memakaikan sandal, menutupi dengan tirai bila Rasulullah SAW mandi, membangunkan beliau dari tidurnya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari. Beliau berkata, “Ketika baru datang dari Yaman, aku dan saudaraku singgah dulu di mesjid. Saat itu kami menganggap Abdullah bin Mas’ud adalah salah seorang pemuda dari Ahlu Bait Rasulullah SAW, karena begitu seringnya kami melihat beliau dan ibunya memasuki rumah Rasulullah SAW.”

Kedekatan beliau dengan Rasulullah SAW memberikan banyak andil dalam wawasan ilmiah beliau hingga akhirnya beliau menjadi salah seorang pelopor dalam perkembangan fikih Islam. Warisan keilmuannya menyebar di seantero dunia Islam. Selain itu, beliau juga menjadi tempat bertanya para sahabat besar.

Dalam sebuah majelis dzikir yang diadakan di rumah Abu Musa al Asy’ari, ada beberapa sahabat yang menanyakan beberapa hal tentang al Qur’an kepada Abdullah, maka beliau langsung berkata, “Hanya beliaulah (Abu Musa) yang paling tahu tentang wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW.” Maka Abu Musa pun menjawab, “Oh c tidak. Beliaulah orang yang dapat masuk ke rumah Rasulullah kapan saja saat kita tidak bisa. Beliau juga orang yang dapat menyaksikan apa-apa yang tidak bisa kita saksikan.”

Apa pandangan Umar bin Khattab tentang beliau ? “Beliau adalah samudera ilmu yang dapat mewarnai kota Qadisiyyah.”

Walaupun demikian, kelebihan beliau bukan hanya terletak pada sisi keilmuan dan keruhanian saja. Beliau terkenal juga sebagai seorang mujahid. Terampil dalam teknik berperang, berbadan kuat, pemberani, adalah hal-hal yang dimilikinya.

Ketika Rasulullah SAW berkata, “Demi Allah, orang-orang Quraisy sama sekali belum pernah mendengar ayat-ayat Allah. Gerangan siapakah di antara kalian yang mau memperdengarkannya kepada mereka?” Di sini, keberanian beliau terlihat. Beliau langsung menyambut permintaan Rasulullah SAW, “Saya, wahai Rasulullah yang akan memperdengarkannya.”

Para sahabat yang hadir agak merasa keberatan dengan hal itu, mengingat Abdullah adalah bekas budak yang tidak mempunyai keluarga yang biasa membelanya. Tapi beliau tetap bersikeras dengan tekadnya. Maka pada keesokan harinya, beliau berdiri tegak di Maqam Ibrahim membaca surat ar Rahman di tengah kerumunan orang-orang Quraisy. Tak ayal lagi, beberapa saat kemudian pukulan bertubi-tubi menghujani beliau.

Ketika pulang kepada para sahabat dengan darah membanjiri tubuhnya, mereka berkata, “Inilah yang kutakutkan padamu.” Dengan tanpa sedih sedikitpun beliau menjawab, “Demi Allah, sekarang baru aku tahu bahwa tidak ada musuh-musuh yang lebih hina dan ringan daripada orang-orang kafir Quraisy. Bila kalian izinkan, aku akan mendatangi mereka sekali lagi besok.”

Kemudian kepiawaian beliau dalam berperang telah terbukti bahwa beliaulah yang berhasil memenggal kepada musuh Allah SWT, Abu Jahal pada perang Badar. Hal itu pernah beliau ceritakan, “Ketika kuinjak lehernya, sempat dia mengatakan, ‘Hai penggembala kambing, beraninya kau menginjak mahkotaku.’ Tak lama setelah itu tergelindinglah kepala musuh utama dakwah ini.”

Semua keberanian dan keterampilan itu tidaklah timbul karena beliau bertubuh besar. Beliau adalah budak berkulit hitam yang kerempeng dan kecil tubuhnya. Tapi besarnya iman telah merubahnya menjadi seorang yang mempunyai izzah atau kemuliaan dan kehormatan.

Suatukali, ketika beliau diminta untuk memanjat pohon, ada seorang sahabat yang bergumam, “Oh, kecil sekali kakinya!” Mendengar hal itu, Rasulullah SAW marah dan berkata, “Jangan kalian berkata begitu. Sungguh kaki itu akan sangat berat timbangannya di surga kelak.”

Beliau meninggal tetap dalam kepapaan, memberi bekal anak-anaknya keimanan dan sifat tawakkal kepada Allah Sang Pemberi Rezeki. Begitulah sari hidup seorang sahabat yang tak habis-habisnya memberikan kita keteladanan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s