KATAKAN BENAR WALAUPUN PAHIT!

Saudaraku….

Pertempuran antara hak dan batil akan terus berlangsung sampai akhir kehidupan. Para pembela kebatilan tidak pernah berhenti berlaga dalam medan pertempuran dan tidak pernah puas sampai akhirnya kebatilan diaplikasikan oleh manusia-manusia yang mampu dipengaruhinya. Mereka itu adalah hizbusy syaithan, partai setan yang senantiasa menggulirkan nilai-nilai kemungkaran, kemaksiatan dan memancangkan tonggak kebatilan di bumi kehidupan.

Karena pertempuran antara kedua hal ini terus ada dan berlangsung sepanjang sejarah kehidupan manusia, maka kelompok pembela kebenaran harus terus eksis menyuarakan nilai-nilai kebenaran itu dalam setiap dimensi kehidupan. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, taqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar….” (QS 33:70)

“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan bebuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS 22:77)

Dewasa ini orang-orang yang mengusung gerbong kebatilan secara terang-terangan menebarkan virus kebatilan dengan berbagai cara dan gaya. Aksi-aksi kemaksiatan semakin berani menampilkan kekuatannya di depan umum, meskipun ada bentuk kemungkaran yang masih dibungkus rapi dengan keindahan bingkai istilah. Coba tengok kembali dunia nyata kita, dan perhatikan nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat kita. Dalam kehidupan sosial, kita temukan segudang nilai-nilai jahiliyah tumpah ruah dalam kanvas kehidupan masyarakat. Hidup permisif, gaya hidup hedonik, free-sex, pergaulan bebas, perselingkuhan, budaya narkoba dan nilai-nilai jahiliyah lain yang senantiasa mewarnai ruang-ruang dan bilik-bilik kehidupan kita. Dalam dunia politik dan hukum, sederet kepalsuan, gelombang permainan hukum, jaring-jaring kemunafikan, kelaliman dan ketidakadilan biasa kita jumpai setiap saat. Dan hal ini juga kita temukan pada dimensi kehidupan yang lain.

Saudaraku….

Fenomena yang ada dalam masyarakat kita ini, menuntut para penyeru kebaikan, para pendukung dan pembela kebenaran agar terus aktif dan dinamis dalam menebarkan nilai-nilai agung di tengah masyarakat yang sedang terombang-ambing oleh gelombang amoral dan harus berani mengatakan “benar” di tengah-tengah masyarakat yang sedang diterpa badai “syubhat” dan “syahwat”, meskipun langkah-langkahnya akan mendapatkan ganjalan dan hantaman dari para pendukung kebatilan. Namun, sebagai pembela kebenaran, kita harus berani menyuarakan kebenaran sekeras-kerasnya ke telinga manusia-manusia yang dungu dan harus berani tampil beda dengan nilai kebenaran yang diyakini walaupun pahit dan menyakitkan. Memang inilah resiko dalam perjuangan dan merupakan sunnatullah dalam perjalanan dakwah.

Berani Mengatakan Benar adalah Buah Keimanan

Saudaraku…

Berani mengatakan yang benar, meskipun itu pil pahit yang harus kita telan dan membuat kita berhadapan dengan tangan-tangan besi para pembual keadilan dan pendukung kebatilan, merupakan refleksi ketegasan sikap dan pendirian kita sebagai seorang mukmin. Keberanian kita mengatakan kebenaran adalah salah satu buah dari bentuk ikrar harian kita “Radlitu billahi robban, wa bil-islaami diinan wa bi-Muhammadin nabiyyan wa rasuulan”. Suara lantang kita di hadapan penguasa di saat melakukan program amar ma’ruf dan nahi munkar (F2) adalah refleksi kekuatan dan kedalaman iman yang bersemayam dalam jiwa. Dan perlawanan kita terhadap setiap kemunkaran yang muncul dari pendukung dan pembela kebatilan adalah buah dari pemahaman atas fenomena yang ada di hadapan mata kita. Inilah prinsip yang harus kita pegang sampai akhir hayat kita.

Saudaraku…

Kita tidak boleh diam seribu bahasa di hadapan kebobrokan yang ada, kita tidak boleh duduk berpangku tangan melihat kelaliman dan ketidakadilan merajalela, kecuali kita mau menjadi kader yang dungu, bisu dan buta akan nilai-nilai kebenaran. Dan kalau hal ini yang kita pilih, layakkah kita berada dalam barisan da’wah ini? Pantaskah kita mengaku memiliki “simat ikhwani”? Benarlah apa yang dikatakan syuyukh kita; “Kam minnaa laisa fiinaa wa kam fiina laisa minnaa” (Banyak orang yang termasuk golongan kami tetapi mereka tidak berada dalam barisan kami dan banyak orang yang berada dalam barisan kami tetapi tidak termasuk golongan kami).

Saudaraku….

Syekh al-Bahy al-Khuly dalam kitab “Tadzkiratud du’at” mengingatkan kepada kita yang tidak pernah merasa terpanggil dengan kondisi masyarakat, yang tidak pernah melakukan gerakan ishlah dan yang bisu akan nilai-nilai kebenaran, untuk minggir dari jalan da’wah ini. Da’wah tidak memerlukan manusia-manusia yang lemah, dan manusia-manusia yang hatinya tidak pernah terbakar api amarah kemunkaran dan kebatilan. Da’wah juga tidak pernah memilih kelompok manusia yang emosinya dingin, tidak pernah cemburu manakala melihat kelaliman. Sebaliknya da’wah hanya menginginkan kader-kader yang beriman, memiliki tekad kuat nan jujur, gemar berkorban dan berani menanggung resiko.

Ikhwah Fillah…Coba kita renungkan kembali ikrar setia kita selama ini, renungkan kembali “ruhul istijabah” kita terhadap program amar ma’ruf nahi munkar dan tanyakan pada diri kita masing-masing sudahkah kita benar-benar memiliki “simat ikhwani” atau “muwashafat tarbawiyah harakiyah”?

Qaulul Haq adalah Ibadah dan Jihad

Saudaraku…

Ibadah adalah segala ucapan dan perbuatan yang dicintai dan diridloi Allah SWT baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Termasuk ucapan lantang kita akan kebenaran di hadapan para penguasa yang lalim adalah ibadah. Qulul haq yang kita suarakan untuk melakukan perbaikan dan perubahan di tengah-tengah masyarakat kita adalah ibadah. Semua gerakan, langkah, perbuatan dan ucapan yang mengandung nilai-nilai kebenaran dan kebaikan adalah ibadah. Ikhwah Fillah…Berapa banyak usaha untuk menyuarakan kebenaran di hadapan para penguasa dan berapa banyak gerakan serta langkah kita dalam derap perjuangan da’wah, sebanyak itulah pahala ibadah yang kita himpun dalam ruang kehidupan kita. Tidakkah suatu keagungan dan kemuliaan, ketika sekali kita berucap dan berbuat, maka sepuluh kali Allah membalasnya dalam mizan amal kita. Subahanallah, Yang Maha Pemurah kepada hamba-hambaNya. Sungguh sebuah kenikmatan dan keindahan hidup ketika kita terus melakukan langkah-langkah perjuangan dalam hidup ini.

Saudaraku…

Bukan hanya ibadah. Sekali lagi, Qaulul haq itu bukan hanya ibadah. Namun ia menjadi pekikan jihad di telinga para penguasa dan pendukung kebatilan. Semakin keras suara kita mengumandangkan kebenaran dan semakin bertalu-talu gema suaranya, ini akan semakin menggelorakan pekikan perjuangan kita. Perpaduan suara ini selain akan menggetarkan hati manusia yang selama ini berada dalam kubangan kemungkaran juga menunjukkan terjaganya dimensi imaniah dalam diri kita.

Saudaraku…

Ruang lingkup jihad dalam Islam sangat luas. Selain bermakna memerangi kuffar dan penentang da’wah secara fisik, jihad bisa berbentuk tulisan, ucapan dan pengorbanan harta. Rasulullah SAW ketika ditanya oleh sahabatnya; “Jihad yang mana yang lebih utama?” beliau menjawab, “Perkataan haq di hadapan Sultan (penguasa) lalim.” (HR an-Nasa-I dengan sanad shahih)

“Jihad yang paling utama adalah kata ‘adl di hadapan Sultan (penguasa) lalim.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi, hadits Hasan)

Contoh Teladan Salafus Shaleh

Saudaraku…

Jalan perjuangan ini telah menjadi karakter Salafus Shaleh. Hati mereka terasa tersayat ketika menyaksikan kemunkaran dan kemaksiatan mewabah. Jiwa mereka meronta-ronta di saat kelaliman mewarnai setiap kisi-kisi kehidupan.

Adalah Abu Dzar al-Ghifari, seorang auditor ulung yang tanpa sungkan dan ragu menegur pejabat-pejabat pemerintah pada masanya agar tidak menimbun harta kekayaan, sementara masih banyak rakyat yang hidup dalam kesusahan.

Atau Sa’iid bin ‘Aamir yang pernah berkata kepada Amiril mukminin Umar bin Khattab ra., “Sesungguhnya aku ingin mewasiatkan kepada kamu kalimat-kalimat yang menjadi mutiara dan pilar-pilar Islam; takutlah kepada Allah dalam berhubungan dengan manusia dan jangan sekali- kali takut kepada manusia dalam berhubungan dengan Allah. Dan jangan sekali-kali perkataanmu menyalahi perbuatanmu, karena perkataan yang baik itu adalah perkataan yang dibenarkan oleh perbuatan…”

Ada pula Khaulah binti Hakim, seorang wanita yang pernah membuat Khalifah Umar bin Khattab menangis karena ucapannya yang tajam; “Hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah dalam urusan rakyatmu dan ingatlah orang yang takut akan kematian, ia akan sangat takut kehilangan kesempatan.” Lalu al-Jarud yang bersama Umar marah dan berkata, “Berani benar kamu terhadap Amiril Mukminin, sampai-sampai kamu berani membuatnya menangis.” Umar berkata, “Biarkan dia, tidakkah kamu tahu siapa dia ini? Dia adalah Khaulah binti Hakim yang mana Allah SWT telah mendengar pengaduannya dari atas langit-langitNya. Maka Umar -demi Allah- berhak mendengarkan ucapannya.”

Hal ini juga pernah dilakukan oleh kader-kader pilihan da’wah di hadapan para thogut dan penguasa lalim. Jalan inilah yang dipilih Asy-Syahid, Sayyid Qutb, Hasan Hudzaibi dan yang lainnya. Dan jalan ini terus diramaikan oleh para pembawa obor estafet da’wah ini.

Saudaraku…

Semoga kita semua senantiasa menjadi kader-kader yang siap mengusung beban da’wah dan tidak pernah bosan mengatakan yang benar itu benar, serta menjadi kader yang tidak pernah gentar menghadapi setiap tantangan dan rintangan da’wah. Wallahu A’lam bis-shawwab.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s