Persiapan menyambut Lailatul Qadar

AMALAN Rasulullah SAW dan sahabat pada malam akhir Ramadan untuk mengisi Lailatul Qadar. Antaranya:
Mandi, berpakaian indah dan berharum-haruman

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Asim bahawa Huzaifah pernah mengerjakan qiyam Ramadan bersama Rasulullah SAW dan melihat bahawa Baginda mandi pada malam itu.

Ibnu Jarir pula berkata bahawa sahabat menyukai mandi pada malam-malam akhir Ramadan.

Demikian pula beberapa riwayat daripada sahabat seperti Anas bin Malik dan ulama pada masa Tabi’in menyatakan bahawa mereka akan mandi, memakai baju indah dan berharum-haruman apabila berada pada akhir Ramadan.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah, sahabat dan Tabi’in ini adalah satu upaya untuk menyambut dan meraikan kedatangan Lailatul Qadar, sambil berdoa mendapatkan keampunan dan keberkatan malam itu.
Melaksanakan solat sunat, iktikaf dan membaca al-Quran.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan satu hadis daripada Aishah, bermaksud: “Adalah Rasulullah apabila telah masuk 10 akhir daripada Ramadan, maka Baginda akan menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya dan mengikat pinggangnya.”

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Amru bin `Ash bermaksud: “Barang siapa yang solat pada malam Ramadan dan membaca 10 ayat daripada al-Quran maka dia tidaklah dicatat sebagai orang yang lalai.”

Mengerjakan solat dan membaca al-Quran pada pada malam yang akhir ini sangat penting hingga dalam salah satu riwayat dikatakan bahawa Rasulullah SAW melakukan solat pada malam Ramadan dan membaca al-Quran dengan tertib.
Memperbanyak doa.

Rasulullah SAW bersabda doa adalah otak segala ibadat. Doa juga kunci daripada semua ibadat. Aishah diperintahkan oleh Baginda untuk memperbanyak doa pada 10 malam terakhir Ramadan.

Dalam satu hadis daripada Aishah diriwayatkan at-Tirmizi, Aishah diajar oleh Rasulullah SAW membaca doa pada malam al-Qadar.

Ulama bersepakat bahwa doa yang paling utama pada malam al-Qadar adalah doa yang meminta keampunan dan kemaafan daripada Allah. Perkara ini seperti doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aishah. Doanya berbunyi: “Allahumma innaka afuwun tuhibbul afwa fa’ fu anni (maksudnya, Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun, yang suka Maha Mengampun, maka ampunilah aku ini).”

Pada malam itu Allah akan mengabulkan semua permohonan dan doa, terkecuali terhadap empat golongan manusia. Ibnu Abbas berkata: “Semua doa pada malam itu diterima terkecuali doa orang meminum arak, anak yang derhaka kepada ibu bapa, orang yang selalu bertengkar dan mereka yang memutuskan silaturahim.”

Iklan

ISTRI KEDUA

Abdullah bin Syekh Hasan al Jibrati menikah dengan Fatimah binti Ramadhan Jalabi. Fatimah ini figur isteri yang baik dan berbakti. Di antara kebaikannya, ia biasa membelikan suaminya pakaian yang bagus-bagus dengan uangnya sendiri, demikian pula untuk membelikan pakaian serta perhiasannya sendiri.

Ia tidak pernah meminta uang kepada suami, atau menggunakan uang belanja keluarga. Begitu baiknya, sampai-sampai ia diam saja dan tidak merasa cemburu melihat suaminya suka membeli budak perempuan. Kesetiaannya tidak menjadi luntur; sama sekali tidak terpengaruh. Atas semua itu ia berharap beroleh balasan pahala yang berlipat ganda dari Allah.

Pada tahun 1156 Hijriyah, Abdullah pergi haji. Di Mekah ia berkenalan dengan orang bemama Umar al Halbi. Ia dipesan untuk membeli seorang budak perempuan berkulit putih, masih perawan, dan bertubuh langsing. Pulang dari ibadah haji, ia mencari budak perempuan dengan ciri-ciri tersebut, dan cukup lama ia baru mendapatkannya.

Abdullah memperkenalkan budak perempuan yang baru dibelinya itu kepada isterinya. Tetapi sang istri sama sekali tidak tersinggung. Ia bahkan menganggapnya sebagai puterinya sendiri. Lama-kelamaan keduanya saling mencintai, dan tidak mau berpisah selamanya.

“Jadi bagaimana ini?” tanya Abdullah kepada isterinya.

“Begini saja,”jawab sang isteri, “Aku ganti uangnya, lalu kamu belikan budak yang lain.”

“Baiklah,” kata Abdullah setuju.

Oleh Fatimah, budak perempuan yang baru dibelinya itu dimerdekakan, dan dinikahkan dengan suaminya. Bahkan, ia menyediakan kamar tersendiri untuk madunya tersebut.

Pada tahun 1165 Abdullah memboyong isteri keduanya ini ke rumah sendiri. Tetapi, istri pertama tetap merasa berat untuk berpisah barang sesaat pun, meski ia telah memiliki beberapa orang anak.

Pada tahun 1182 isteri kedua jatuh sakit, lalu disusul oleh isteri pertama. Kian lama sakit keduanya kian parah. Tengah hari, isteri kedua memaksakan diri bangun dari pembaringan. Ia menangis melihat isteri pertama dalam keadaan pingsan. Ia berdoa, “Tuhan, jika Engkau takdirkan ia meninggal, jangan ia mendahuluiku.”

Benar… Malamnya, isteri kedua itu meninggal dunia. Ia disemayamkan di samping isteri pertama. Saat menjelang subuh, ia siuman. Sambil meraba-raba ia membangunkan madunya. Namun, ia menjadi lunglai ketika diberitahu bahwa madunya sudah meninggal. Ia menangis melolong-lolong hingga tengah hari. Setelah ikut menyaksikan madunya dimandikan, ia pun kembali ke pembaringannya. Petang hari ia meninggal dunia, dan jenazahnya dimakamkan pada hari berikutnya.

Sumber: ‘Aja’ib al Atsar, al Jibrati

NASEHAT YANG JITU

Pada suatu hari Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi’ah. Ia meminta nasehat kepada Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya.

Ia berkata, “Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!”

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa.”

Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?”

“Syarat pertama, jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki Allah,” ucap Ibrahim.

Jahdar mengernyitkan dahinya lalu berkata, “Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah?”

“Benar,” jawab Ibrahim dengan tegas. “Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara Kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya?”

“Baiklah,” jawab Jahdar tampak menyerah. “Kemudian apa syarat yang kedua?”

“Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya,” kata Ibrahim lebih tegas lagi.

Syarat kedua membuat Jahdar lebih kaget lagi. “Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?”

“Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?” tanya Ibrahim.

“Kau benar Aba Ishak,” ucap Jahdar kemudian. “Lalu apa syarat ketiga?” tanya Jahdar dengan penasaran.

“Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempar bersembunyi dari-Nya.”

Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. “Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?”

“Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu?” tanya Ibrahin kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi’ah tidak berkutik dan membenarkannya.

“Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat?”

“Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh.”

Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. Ia kemudian berkata, “Tidak mungkin… tidak mungkin semua itu aku lakukan.”

“Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?”

Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu.

“Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!”

Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, “Cukup…cukup ya Aba Ishak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah.”

Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu’.

Ibrahim bin Adham yang sebenarnya adalah seorang pangeran yang berkuasa di Balakh itu mendengar bahwa di salah satu negeri taklukannya, yaitu negeri Yamamah, telah terjadi pembelotan terhadap dirinya. Kezaliman merajalela. Semua itu terjadi karena ulah gubernur yang dipercayainya untuk memimpin wilayah tersebut.

Selanjutny, Ibrahim bin Adham memanggil Jahdar bin Rabi’ah untuk menghadap. Setelah ia menghadap, Ibrahim pun berkata, “Wahai Jahdar, kini engkau telah bertaubat. Alangkah mulianya bila taubatmu itu disertai amal kebajikan. Untuk itu, aku ingin memerintahkan engkau untuk memberantas kezaliman yang terjadi di salah satu wilayah kekuasaanku.”

Mendengar perkataan Ibrahim bin Adham tersebut Jahdar menjawab, “Wahai Aba Ishak, sungguh suatu anugrah yang amat mulia bagi saya, di mana saya bisa berbuat yang terbaik untuk umat. Dan tugas tersebut akan saya laksanakan dengan segenap kemampuan yang diberikan Allah kepada saya. Kemudian di wilayah manakah gerangan kezaliman itu terjadi?”

Ibrahim bin Adham menjawab, “Kezaliman itu terjadi di Yamamah. Dan jika engkau dapat memberantasnya, maka aku akan mengangkat engkau menjadi gubernur di sana.”

Betapa kagetnya Jahdaar mendengar keterangan Ibrahim bin Adham. Kemudian ia berkata, “Ya Allah, ini adalah rahmat-Mu dan sekaligus ujian atas taubatku. Yamamah adalah sebuah wilayah yang dulu sering menjadi sasaran perampokan yang aku lakukan dengan gerombolanku. Dan kini aku datang ke sana untuk menegakkan keadilan. Subhanallah, Maha Suci Allah atas segala rahmat-Nya.”

Kemudian, berangkatlah Jahdar bin Rabi’ah ke negeri Yamamah untuk melaksanakan tugas mulia memberantas kezaliman, sekaligus menunaikan amanah menegakkan keadilan. Pada akhirnya ia berhasil menunaikan tugas tersebut, serta menjadi hamba Allah yang taat hingga akhir hayatnya.

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

ASAL-USUL KUMANDANG ADZAN

Seiring dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukannya semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untuk menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak dapat dmusnahkan.

Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya. Demikian pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang ada dikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya.

Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi mereka untuk bisa berkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat berjama` ah. Kini, hal itu tidak mudah lagi mengingat setiap penduduk tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama. Kesibukan yang tinggi pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun kelalaian pada masing-masing orang untuk menunaikan sholat pada waktunya.

Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian terus-menerus berulang, maka bisa dipikirkan bagaimana jadinya para pemeluk Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup berat yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya.

Pada masa itu, memang belum ada cara yang tepat untuk memanggil orang sholat. Orang-orang biasanya berkumpul dimasjid masing -masing menurut waktu dan kesempatan yang dimilikinya. Bila sudah banyak terkumpul orang, barulah sholat jama `ah dimulai.

Atas timbulnya dinamika pemikiran diatas, maka timbul kebutuhan untuk mencari suatu cara yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan dan memanggil orang-orang untuk sholat tepat pada waktunya tiba.

Ada banyak pemikiran yang diusulkan. Ada sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu sholat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ketempat itu, atau setidak-tidaknya asapnya bisa dilihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Ada yang menyarankan untuk membunyikan lonceng. Ada juga yang mengusulkan untuk meniup tanduk kambing. Pendeknya ada banyak saran yang timbul.

Saran-saran diatas memang cukup representatif. Tapi banyak sahabat juga yang kurang setuju bahkan ada yang terang-terangan menolaknya. Alasannya sederhana saja : itu adalah cara-cara lama yang biasanya telah dipraktekkan oleh kaum Yahudi. Rupanya banyak sahabat yang mengkhawatirkan image yang bisa timbul bila cara-cara dari kaum kafir digunakan. Maka disepakatilah untuk mencari cara-cara lain.

Lantas, ada usul dari Umar r.a jikalau ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk sholat pada setiap masuknya waktu sholat. Saran ini agaknya bisa diterima oleh semua orang, Rasulullah SAW juga menyetujuinya. Sekarang yang menjadi persoalan bagaimana itu bisa dilakukan ? Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan sbb :

“Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja.

Orang tersebut malah bertanya,” Untuk apa ? Aku menjawabnya,”Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat.” Orang itu berkata lagi,”Maukah kau kuajari cara yang lebih baik ?” Dan aku menjawab ” Ya !”

Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang , ” Allahu Akbar,Allahu Akbar..”

Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau. Dan beliau berkata,”Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.” Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal.”

Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar r.a, ia juga menceritakannya kepada Rasulullah SAW . Nabi SAW bersyukur kepada Allah SWT atas semua ini.

Tulisan diambil dari Al-Islam Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

SEBUTIR KORMA PENJEGAL DO’A

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.

Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.

4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali.

Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.

“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. “Astaghfirullahal adzhim” ibrahim beristighfar.

Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya ibrahim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”. Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”.

“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”

“Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.”

Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.”

“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”

“Oleh sebab itu berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah? lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu…

Abdullah Bin Mas’ud: Penggembala yang Menjadi Ulama

Tokoh kita kali ini adalah seorang ahli ibadah, juga seorang ulama fikih, pemimpin keagamaan masyarakat Irak, dan peletak mazhab fikih di Kufah. Beliau juga termasuk dalam golongan para sahabat yang pertama masuk Islam.

Sangat jenius, begitu juga Rasulullah SAW menyifatinya. Beliau mendapat kesempatan emas turut dalam perang Badar Kubra. Sebelum hijrah, beliau dipersaudarakan dengan Zubeir bin Awwam. Kemudian sesampai di madinah al munawwarah, beliau dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Mu’az. Pada masa khalifah Umar bin Khattab, beliau diutus ke Qadisiyyah menjadi guru dan pengajar bagi muslimin di daerah itu.

Sebelum masuk Islam, beliau adalah seorang penggembala domba milik ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Sebenarnya beliau sudah sejak awal mendengar kabar diutusnya Rasulullah SAW. Tapi karena usianya yang masih sangat muda, ditambah kesibukannya menggembala, beliau acuh dengan kabar tersebut. Bagaimanapun keadaannya, bila Allah SWT sudah berkenan memberi hidayah, tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi.

Suatu hari, ketika panas matahari sudah begitu menyengat, datanglah dua orang yang sangat berwibawa mendekatinya. Terlihat dari wajah dan bibir mereka, keduanya sedang sangat kehausan. Setelah dekat, keduanya berkata, “Tolong peraskan susu untuk kami.” Sang penggembala menjawab, “Maaf, saya tidak bisa. Domba-domba ini bukan milik saya.” Keduanya kembali berkata, “Kalau begitu, tolong ambilkan seekor yang masih sangat kecil.” Setelah domba itu diberikan, salah satu dari mereka mengusap teteknya sambil mengucap Nama Allah SWT. Kontan penggembala itu terheran-heran, mana ada domba sekecil itu akan mengeluarkan susu.

Tapi lama-kelamaan, susu itu mengembang lalu mengeluarkan air susu dengan derasnya. Setelah hilang rasa dahaga mereka bertiga, pengembala itu pun berkata, “Tolong ajari aku kalimat yang tadi engkau baca sebelum memeras.” Salah satu dari dua orang yang ternyata adalah Rasulullah SAW itu menjawab, “Engkau sungguh anak yang jenius.” Mulai saat itu sang penggembala belajar Islam.

Itulah sahabat Rasulullah SAW yang bernama Abdullah bin Mas’ud. Seorang sahabat yang bertugas membawa sandal Rasulullah SAW. Beliau bisa kapan dan di mana saja bersama Rasulullah SAW. Oleh karena itu, tak mengherankan bila beliau mendapatkan banyak hal dari Rasulullah SAW yang tidak didapatkan para sahabat lain. Baik itu dalam bepergian, di rumah, maupun dalam jaga dan tidur beliau. Karena itu, banyak sahabat mengatakan bahwa beliaulah sahabat yang paling mirip dengan Rasulullah SAW dalam hal tindak tanduknya.

Suatu kali, sahabat Umar ra dan Abu Bakar ra bersama Rasulullah SAW memergoki beliau sedang membaca al Qur’an dalam sholatnya, maka Rasulullah SAW segera berkata, “Barangsiapa yang ingin membaca al Qur’an sesuai sebagaimana ia diturunkan, maka bacalah mengikuti bacaan Ibnu Ummi Maktum, Abdullah bin Mas’ud.” Ini adalah sebuah pengakuan langsung dari Rasulullah SAW bahwa beliau sudah bisa menerapkan ajaran-ajaran Islam sampai gaya pembacaan al Qur’annya pun sudah mirip dengan ketika al Qur’an itu diturunkan.

Imam al ‘Aini, dalam menerangkan hadis-hadis Bukhari, mengatakan bahwa Rasulullah SAW memberikan perlakuan khusus kepada Abdullah. Beliau bisa datang kepada Rasulullah SAW kapan saja. Bahkan tidak ada satu hal pun yang dirahasiakan kepada beliau. Beliaulah yang memakaikan sandal, menutupi dengan tirai bila Rasulullah SAW mandi, membangunkan beliau dari tidurnya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari. Beliau berkata, “Ketika baru datang dari Yaman, aku dan saudaraku singgah dulu di mesjid. Saat itu kami menganggap Abdullah bin Mas’ud adalah salah seorang pemuda dari Ahlu Bait Rasulullah SAW, karena begitu seringnya kami melihat beliau dan ibunya memasuki rumah Rasulullah SAW.”

Kedekatan beliau dengan Rasulullah SAW memberikan banyak andil dalam wawasan ilmiah beliau hingga akhirnya beliau menjadi salah seorang pelopor dalam perkembangan fikih Islam. Warisan keilmuannya menyebar di seantero dunia Islam. Selain itu, beliau juga menjadi tempat bertanya para sahabat besar.

Dalam sebuah majelis dzikir yang diadakan di rumah Abu Musa al Asy’ari, ada beberapa sahabat yang menanyakan beberapa hal tentang al Qur’an kepada Abdullah, maka beliau langsung berkata, “Hanya beliaulah (Abu Musa) yang paling tahu tentang wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW.” Maka Abu Musa pun menjawab, “Oh c tidak. Beliaulah orang yang dapat masuk ke rumah Rasulullah kapan saja saat kita tidak bisa. Beliau juga orang yang dapat menyaksikan apa-apa yang tidak bisa kita saksikan.”

Apa pandangan Umar bin Khattab tentang beliau ? “Beliau adalah samudera ilmu yang dapat mewarnai kota Qadisiyyah.”

Walaupun demikian, kelebihan beliau bukan hanya terletak pada sisi keilmuan dan keruhanian saja. Beliau terkenal juga sebagai seorang mujahid. Terampil dalam teknik berperang, berbadan kuat, pemberani, adalah hal-hal yang dimilikinya.

Ketika Rasulullah SAW berkata, “Demi Allah, orang-orang Quraisy sama sekali belum pernah mendengar ayat-ayat Allah. Gerangan siapakah di antara kalian yang mau memperdengarkannya kepada mereka?” Di sini, keberanian beliau terlihat. Beliau langsung menyambut permintaan Rasulullah SAW, “Saya, wahai Rasulullah yang akan memperdengarkannya.”

Para sahabat yang hadir agak merasa keberatan dengan hal itu, mengingat Abdullah adalah bekas budak yang tidak mempunyai keluarga yang biasa membelanya. Tapi beliau tetap bersikeras dengan tekadnya. Maka pada keesokan harinya, beliau berdiri tegak di Maqam Ibrahim membaca surat ar Rahman di tengah kerumunan orang-orang Quraisy. Tak ayal lagi, beberapa saat kemudian pukulan bertubi-tubi menghujani beliau.

Ketika pulang kepada para sahabat dengan darah membanjiri tubuhnya, mereka berkata, “Inilah yang kutakutkan padamu.” Dengan tanpa sedih sedikitpun beliau menjawab, “Demi Allah, sekarang baru aku tahu bahwa tidak ada musuh-musuh yang lebih hina dan ringan daripada orang-orang kafir Quraisy. Bila kalian izinkan, aku akan mendatangi mereka sekali lagi besok.”

Kemudian kepiawaian beliau dalam berperang telah terbukti bahwa beliaulah yang berhasil memenggal kepada musuh Allah SWT, Abu Jahal pada perang Badar. Hal itu pernah beliau ceritakan, “Ketika kuinjak lehernya, sempat dia mengatakan, ‘Hai penggembala kambing, beraninya kau menginjak mahkotaku.’ Tak lama setelah itu tergelindinglah kepala musuh utama dakwah ini.”

Semua keberanian dan keterampilan itu tidaklah timbul karena beliau bertubuh besar. Beliau adalah budak berkulit hitam yang kerempeng dan kecil tubuhnya. Tapi besarnya iman telah merubahnya menjadi seorang yang mempunyai izzah atau kemuliaan dan kehormatan.

Suatukali, ketika beliau diminta untuk memanjat pohon, ada seorang sahabat yang bergumam, “Oh, kecil sekali kakinya!” Mendengar hal itu, Rasulullah SAW marah dan berkata, “Jangan kalian berkata begitu. Sungguh kaki itu akan sangat berat timbangannya di surga kelak.”

Beliau meninggal tetap dalam kepapaan, memberi bekal anak-anaknya keimanan dan sifat tawakkal kepada Allah Sang Pemberi Rezeki. Begitulah sari hidup seorang sahabat yang tak habis-habisnya memberikan kita keteladanan

Abdullah bin Mas’ud

Abdullah bin Mas’ud termasuk dalam golongan pertama yang masuk islam (as-sabiquna al awalun) urutan ke-6 dari para sahabat Rasulullah dan ia termasuk pula sebagai orang yang hijrah ke Habasyah yaitu hijrah pertama kali dalam islam.

Cerita tentang masuknya Abdulah bin Mas’ud ke dalam islam, beliau berkata, ” Adalah aku menggembala kambing kepunyan ‘Uqbah abi Mu’ith. Tiba-tiba berlalu Rasulullah bersama abu Bakar. Kemudian rasulullah bertanya, “Ya Ghulam (anak kecil), apakah ada susu di kambing ini ?

Aku menjawab, “Ada tetapi aku hanya diamanati (ini bukan kepunyaanku) lantas Rasulullah bertanya lagi, “Adakah kambing betina yang belum di dekati si jantan?” Kemudian aku datangkan kambing betina kepada beliau, kemudian Rasulullah mengusap kantong kelenjar susunya, hingga keluarlah susu. antas beliau memerahnya pada sebuah wadah, kemudian beliau meminumnya dan memberi Abu Bakar.

Beliau bersabda pada kantong susu tersebut, “Menyusutlah kamu’. maka susutlah air susu. Seusai kejadian itu aku datang kepada beliau. ” Ya rasulullah ajarkanlah kepadaku al-Qur’an. Kemudian Rasulullah mengusap kepalaku sambil mendo’akan, ” Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya kamu ini anak kecil yang mualamun (mulhamun yaitu sesungguhnya engkau anak kecil yang diilhami Allah kebaikan dan kebenaran). Dalam riwayat yang lain, “Ajarkanlah kami Al-Qur’an. Kemudian Nabi bersabda, ” Sesungguhnya kamu adalah anak kecil yang pandai. Lantas kami mengambil 70 surat dari ucapa lisan Rasulullah.

Kepribadian beliau :

Beliau adalah sahabat Rasulullah yang berbadan kurus, pendek, besar perutnya serta keciil kedua betisnya. akan tetapi ia sangat lembut, sabar dan cerdik. Abdullah termasuk ulama pandai, sehingga dikatakan sebagai al-imam al-Hibr (pemimpin yang alim, yang shalih). Faqihu al-Ummah (Fakihnya ummat). Ia termasuk bangsawan mulia, termasuk sebaik-baik manusia dalam berpakaian putih.

Ilmunya beliau melimpah ruah. Ibnu Numair pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Ambillah Al-Qur’an dari empat sahabat. Beliau memulai dengan menyebut Ibnu Ummi ‘Abd (Ibnu Mas’ud), Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Salim budak Abu Hudaifah.”

Beliau adalah sahabat yang senang dengan ilmu, baik menimba ilmu atau mengamalkannya. Sehingga dinyatakan, bahwa di awal keislamannya, yang dinginkan adalah diajari Al-Qur’an. Sehingga dalam suatau pertemuan dengan Rasuullah berkat kecemerlangan akalnya lansung bisa menimba ilmu dari lisan Rasulullah sebanyak 70 ayat. Karena senangnya terhadap ilmu, bahwa orang yang pertama kali men-jahr-kan Al-Qur’an di Makkah setelah rasulullah adalah Ibnu Mas’ud. Dan orang yang pertama kali membaca dari lubuk hatinya adalah Abdulah bin Mas’ud.

Sesungguhnya Rasululah pernah berjalan dengan Ibnu Mas’ud, sedang Ibnu Mas’ud membaca ayat satu huruf-satu huruf. Maka beliau bersabda, ” Barang siapa senang membaca Al-Qur’an dengan cara yang baik (merendahkan diri) sebagaimana diturunkan maka dengarkanlah bacaan Ibnu Mas’ud.

Dan masih banyak riwayat yang lain tentang pujian Rasulullah terhadap Ibnu Mas’ud.

Keistimewaan beliau

antara lain :

·        Hudzaifah berkata, “Sungguh orang-orang pilihan (yang terjaga) dari para sahabat, mereka mengetahui bahwa Abdullah bin Mas’ud adalah termasuk sahabat yang lebih dekat dengan Nabi di sisi Allah, wasilahnya besok di hari kiamat.” (HR.Hakim)

·        Rasulullah bersabda, ” Aku ridha terhadap ummatku terhadap sesuatu yang diridhai Ibnu Umi ‘abd (Ibnu Mas’ud). Dan aku marah terhadap sesuatu yang menjadian marahnya Ibnu Umi abd.” (HR.Thabrani)

·        Kedua kaki Ibnu Mas’ud lebih berat dari gunung Uhud dalam timbangan hari kiamat. Dari Ali, ia berkata, ” Rasulullah menyuruh Ibnu Mas’ud memanjat pohon untuk mengambil sesuatu. Maka talkala para sahabat melihat dua betisnya yang kecil mereka tertawa. Kemudian Rasulullah bersabda, ” Apa yang kamu tertawakan ? Sungguh kaki Abdullah lebih berat daripada Gunung Uhud pada hari kiamat.” (HR.Ahmad)

·        Beliau adalah pembwa siwak dan kedua sandal Rasulullah. Ia adalah sahabat yang membangunkan Rasulullah tatkala tidur dan mengambilkan wudlunya. Semua ini ia lakukan waktu safar.”

·        Abdullah bin Mas’ud mendengar tasbihnya makanan.

·        Beliau adalah sahabat yang menyerupai Nabi dalam hal ketenangan dan Wibawanya.

Keberanian beliau

Abdullah bin Mas’ud adalah sahabat yang paling dekat dengan Nabi. Ia masuk Islam sebelum masuknya Rasulullah ke Darul arqam. Ia ikut perang Badar, Uhud, Khandaq dan perang lainnya.

Semuanya dilakukan bersama Rasulullah. Pada prang Badar Rasulullah bersabda, ” siapa yang mau datang kepadaku dengan membawa kabar Abu Jahal ? ” Maka Abdullah bin Mas’ud menjawab, ” Saya ya rasulullah. “: lantas ia pergi. tiba-tiba dijumpai dua anak ‘Afra’ telah memukul abu Jahal sehingga pingsan. Keudian Abdullah menginjak leher Abu Jahal dengan kakiknya dan ditebasnya kepala Abu Jahal. Kepala Abu Jahal kemudian dibawa ke hadapan Rasulullah dan Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Ya Rasulullah inilah kepala Abu Jahal.’

Maka rasulullah bersabda,

” Allah yang tiada ilah kecuali Dia (3x). kemudian beliau melanjutkan,

Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah yang telah benar janji-Nya dan telah menolong Hamba-Nya, serta mengalahkan golongan-golongan. (Fathul Bari dan Zadul Ma’ad)

Beliau Wafat di Madinah pada tahun 32 H ketika terbunuhnya Ustman bin affan, dalam usia 60 tahun lebih. Yang menshalati beliau adalah Zubair bin awwam, ada yang mengatakan Ammar bin Yasir. Pada malam wafatnya, ia langsung dimakamkan di Baqi’ sebuah pekuburan di Madinah Munawarah. Semoga Allah meridhainya dan menempatkan di surga-Nya